Oleh: Nur Huda, M.Pd.I 

Bagi manusia yang berorientasi dunia, pasti merasa kebingungan memahami pernyataan di atas. Sesuatu yang tidak logis.

Bagaimana mungkin dengan berqurban hati kita menjadi bahagia. Bukan kah berqurban berarti berkurang harta?

Bukankah dengan berkurangnya harta akan membuat seseorang semakin menderita?

Namun bagi seseorang yang meyakini janji Allah dan sangat berharap merasakan kebahagiaan, ia akan mengatakan bahwa ini sangat logis, bahkan ia ingin lebih banyak berqurban dan berqurban lagi. Ini hanya terjadi pada jiwa – jiwa yang bersih dari sifat kikir.

Allah berfirman :

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9).

Allah mengidentikkan dermawan dengan kemenangan serta keberuntungan, sedangkan sifat kikir bibit dari kebangkrutan dan kekalahan. Bagaimana bisa seperti itu? Ada beberapa alasan.

Pertama, orang dermawan dengan berqurban tidak pernah takut dengan kemiskinan. Bukankan kemiskinan adalah hal yang sering membuat orang takut di dunia ini.  Ketakutan itu  mendorong seseorang melakukan korupsi, merampok, berebut warisan dan melanggar hukum. Sampai – sampai Syetan pun menakut-nakuti kita dengan kemiskinan.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268).

Pelit adalah penderitaan hidup yang sesungguhnya. Betapa bahagia seseorang yang sudah terbebas bayang – bayang kemiskinan dan teror syetan dalam hidupnya. Hidup terasa luas dan lapang. Ia tidak pernah takut jika ada yang berkurang dari hartanya.

Kedua, orang yang berqurban merasa berbahagia saat orang lain merasa bahagia dengan mendapatkan qurbannya.

Semakin banyak yang merasakan kebahagiaan dari harta yang ia keluarkan, semakin bahagia jiwanya. Hati yang semacam ini sudah bersih dari dengki. Jika dengki adalah berharap lenyapnya kenikmatan milik orang lain dan bahagia saat orang lain menderita, maka berqurban adalah berbahagia saat orang lain bahagia.

Jadi, siapakah yang sanggup membatasi kebahagaiaan jiwa-jiwa yang suka berqurban ini? Hilangnya sebagian hartanya tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan rasa bahagia yang ia rasakan.

Ketiga, orang berqurban merasakan ketenangan karena ia merasa telah melaksanakan perintah Allah dan merasa dekat dengan-Nya. Dialah Allah penguasa jagat raya ini.

Dialah yang menitipkan kekayaan-Nya, kepada siapa yang Ia kehendaki dan membatasi pada siapa saja yang Ia kehendaki. Yang menetapkan hak-hak orang lain atas harta kita. Manusia yang tidak menggunakan hartanya sesuai dengan amanah dari yang memberi, tidak akan pernah merasakan ketenangan.

Jadi, marilah kita tumbuhkan kegemaran berbagi dan membahagiakan orang lain. Dan, yakinlah akan janji Allah bahwa jiwa yang rajin berqurban akan diliputi kebahagiaan dan ketenangan. Rasakanlah kebahagiaan itu.*/Penulis adalah (Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim Surabaya)

 

Leave a Comment

WhatsApp chat