Apa yang terjadi di dalam dada seseorang yang dia telah berusaha melakukan yang terbaik, namun takdir Allah berkehendak “istimewa” terhadap diri seseorang? Berkecamuk beragam rasa dan pikiran tentu tak terhindarkan.

Namun, anugerah keimanan jua yang menjadikan seseorang tetap tegar menghadapi kenyataan. Demikianlah sebuah fakta yang didapatkan amil BMH kala silaturrahim dengan seorang dai yang tetap semangat sekalipun kini harus tegak dengan kaki yang tak lagi sempurna.

“Semalam saya berkesempatan mengunjungi Ustadz Suriadi, salah satu dai yang saya kenal sejak dulu punya semangat tinggi dalam berdakwah. Kontribusinya bukan hanya pada pendidikan tapi pada pembinaan pedagang kecil BMH yang berada di Pasar Prumpung, Jakarta TImur,” terang Rama Wijaya yang mengunjunginya pada Selasa malam (17/04)

Prumpung merupakan pasar tradisional yang becek, terkadang bau yang menyengat sudah tak dihiraukan Ustadz Suriadi. Langkah kakinya mantap, secara periodik mengumpulkan para pedagang untuk sekedar mengingatkan muamalah dalam Islam yang semestinya.

“Jadilah pedagang jujur tidak perlu mengurangi timbangan, tidak akan kaya orang yang berlaku curang justru akan menanggung persoalan. Mari tiru bagaiman Rasulullah SAW dalam berdagang,” merupakan salah satu nasihat beliau kepada para pedagang.

Seiring berjalannya waktu, kini kesehatan Ustadz Suriadi menurun, diagnosa penyakit diabetes telah membuatnya terbaring lemas di rumah sakit, bahkan beberapa kali juga mesti masuk perawatan ICU. Terakhir saat luka bagian kakinya kian parah dan berakhir dengan vonis dokter, amputasi tak bisa dihindari.

Kondisi ini memicu kepiluan yang dalam bagi keluarga besarnya. Pasca amputasi Ustadz Suriadi membutuhkan kaki palsu sebagai penopang aktifitasnya.

“Semangatnya mengajar para santri masih tak pudar, meski jarak pandangnya kian terbatas. Semangat dakwahnya tetap tinggi meski diatas kursi roda,” tutur Rama.

“Karena jelang malam, saya izin pamit. Tangannya erat menjabat, berkali ucapan terima kasih dan mohon didoakan selalu berulang. Saya malu, keteguhannya dan semangatnya membuat saya berkaca, bahwa diri saya bukanlah apa-apa. Justru saya yang mestinya senantiasa minta didoakan oleh beliau yang tegar dalam keterbatasan,” ungkap Rama.

“Ustad Suriadi adalah teladan baik bagi semua, ketegaran dan keteguhan semangatnya tak luntur. Doakan beliau ya semoga segera pulih dan terjaga dalam kebaikan. Bagi saya beliau tetaplah guru kehidupan bagaimanapun keadaannya,” pungkasnya.*/Rawi

Leave a Comment

WhatsApp chat