Assalamu’alaikum Warahmatullah wabarakatuh
Saya Aghni (34tahun), status menikah dengan seorang pria 35 tahun. Alhamdulillah kebahagiaan kami bertambah dengan lahirnya bayi laki-laki kami yang sekarang berusia 8 bulan. Akhir-akhir ini, hasrat biologis kami menurun. Adakahkaitannya dengan usia kami yang tidak muda lagi? Atau karena pasca-melahirkan? Kedua, adakah arahan dalam Islam tentang mengungkapkan kemesraan. Terus terang, saya sangat senang sekali bila suami memanjakan diri saya, baik di dalam rumah maupun di luar rumah, terutama saat berjalan bersama di tengah keramaian. Sementara tak sedikit orang memberi perhatian negatif kepada kami, padahal kami kan sudah sah sebagai suami istri. Terima kasih.* Aghni | Balikpapan

Wa’alaikumsalam Warahmatullah wabarakatuh
Bismillah. Ibu Aghni, saya juga akan menjawab tiga penanya lainnya tentang hal serupa. Pertama, menurunnya hasrat biologis Anda berdua bukan berarti tidak memiliki hasrat. Karena itu, harusnya dicari penyebabnya mengapa menurun dan tidak tertarik satu sama lain. Apakah ada hubungannya dengan faktor usia atau karena pasca-melahirkan? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak.

Hal paling penting yang harus Anda erhatikan adalah faktor penyebabnya. Bisa disebabkan karena faktor fisik, misalnya mengidap suatu macam penyakit medis, dan ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan dokter tentunya, atau karena adanya perubahan hormon, seperti masa kehamilan, pasca-melahirkan dan menyusui, atau faktor psikologis/masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, stres dan depresi, atau karena adanya permasalahan yang belum terselesaikan, disebabkan buruknya komunikasi antara Anda dan suami.

Komunikasikan masalah Anda dengan suami dan lakukan pemulihan secara bersama-sama. Insya Allah. Mengungkapkan kemesraan suami istri adalah hal wajar dan sah. Tetapi, kewajaran itu ukurannya adalah mempertimbangkan etika dan kepantasan. Dalam Islam ajaran tentang mengungkapkan kemesraan suami istri ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Paparan berikut sebagai contohnya.

Dinyatakan oleh ‘Aisyah RA, “Pernah aku minum sedang aku waktu itu dalam keadaan haid, kemudian Rasulullah minum dari bekas tempat minumku dan berikutnya diletakkan di tempat bibirku minum. Dan beliau pernah memakan daging bekas gigitanku.” (HR. Muslim). Begitu pula dalam keterangan lainnya bahwa suatu hari Rasulullah memanggil ‘Aisyah, istrinya, dengan sebutan ‘Humairaa’ atau yang merah merekah karena cantiknya, dan pernah pula beliau panggil dengan sebutan ‘Aisy sebagai sebuah panggilan mesra, “Wahai ‘Aisy, ini adalah Jibril, ia menitipkan salam untukmu.” (HR. Bukhari). Bila menelaah contoh di atas, menunjukkan, setiap kehalalan perbuatan yang dilakukan suami istri tidak lantas boleh dilakukan di tempat umum, apatah lagi dengan dipertontonkan.

Terlebih, bila perbuatan-perbuatan tersebut bertujuan untuk membangkitkan nafsu syahwat masing-masing, yang seharusnya tidak dilihat orang lain. Maka mempertontonkan hal ini di hadapan manusia, pertama, merupakan perbuatan munkar, kedua, hal ini menunjukkan telah hilangnya sifat malu yang harusnya ada dalam diri seorang muslim. Dalam hadits dikatakan: “Rasa malu itu merupakan bagian dari keimanan.” (Muttafaq ‘Alaih).

Bahkan di dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nur : 58).

Ayat diatas mengisyaratkan tempat khusus bagi suami istri untuk mengungkapkan kemesraan adalah di dalam kamar (tempat-tempat yang tidak dilihat oleh orang lain) walaupun anak sendiri. Ini juga secara tidak langsung sebagai anjuran mengungkapkan kemesraan di dalam tempat khusus berdua saja tanpa didengat atau dilihat orang lain.
Wallaahu a’lam.*

Leave a Comment

WhatsApp chat